Berikut adalah hasil konten yang telah diulang dalam bahasa Indonesia dan disimpan dengan HTML tags:




Jakarta, Seorang remaja Italia yang hobi bermain video game akan menjadi Santo milenial pertama di Gereja Katolik setelah proses kanonisasinya disetujui oleh otoritas gereja.

Melansir dari CNN International, Cario Acutis yang meninggal dunia saat berusia 15 tahun akibat kanker darah (leukemia) pada 2006 lalu terkenal karena kerap menggunakan keterampilan komputernya untuk menyebarkan kesadaran tentang iman Katolik dan mendapat julukan “Influencer (Pemberi Pengaruh) Tuhan”.

Umumnya, diakui sebagai Santo di Gereja Katolik membutuhkan waktu hingga puluhan tahun. Namun, proses kanonisasi Acutis berlangsung cepat karena ia mengembangkan pengikut setia di seluruh dunia.


Proses kanonisasi gereja biasanya mewajibkan para calon untuk memiliki setidaknya dua mukjizat yang dikaitkan dengan mereka. Tak hanya itu, para calon juga harus mengalami kejadian supranatural yang memerlukan pemeriksaan mendalam.

Foto: Carlo Acutis, 15 tahun, bocah lelaki Italia yang meninggal karena leukemia pada tahun 2006, disemayamkan sebelum dibeatifikasi oleh Kardinal Agostino Vallini, di Assisi, Italia, pada 10 Oktober 2020. (AP/Gregorio Borgia)

Pada Mei lalu, mukjizat kedua yang dikaitkan dengan Acutis diakui oleh Paus Fransiskus. Hal itu menjadi keputusan yang membuka jalan bagi Azuts untuk dinyatakan sebagai orang suci.

Langkah terakhir dilaksanakan pada Senin, yakni ketika Vatikan mengumumkan bahwa Paus telah memutuskan kanonisasi akan dilanjutkan setelah para kardinal yang dibentuk oleh Paus memberikan suara mendukung kesucian Acutis dan 14 kardinal lainnya.

Namun, tanggal kanonisasinya belum ditentukan meskipun kemungkinan akan terjadi pada perayaan tahun Yobel Gereja Katolik pada 2025.

Upacara kanonisasi tersebut diperkirakan bakal berlangsung di Lapangan Santo Petrus, Kota Vatikan di depan puluhan ribu orang dan dipimpin langsung oleh Paus. Dalam upacara ini, Acutis secara resmi dinyatakan sebagai orang suci, orang kudus, atau Santo.

Dengan demikian, Gereja Katolik di seluruh dunia dapat menamai paroki serta sekolah dengan namanya dan akan mengingat Acutis setiap tahun pada “feast day“.

Sebagai informasi, Acutis yang lahir di London, Inggris pada 1991 adalah sosok milenial yang dikenang oleh teman dan keluarganya karena gemar bermain video game seperti Halo, Super Mario, dan Pokemon.

Selama masa hidupnya, Acutis juga membuat situs web yang mendokumentasikan laporan mukjizat yang terjadi di berbagai belahan dunia. Selain kemampuan komputer dan permainan, Acutis juga hobi memainkan saksofon, sepak bola, mencintai binatang, dan membuat film pendek tentang anjingnya.

Ibu Acutis, Antonia Salzano, menggambarkan putranya sebagai “tanda harapan” yang menunjukkan bahwa kekudusan adalah mungkin dilakukan saat ini.

“Seperti yang saya lakukan, Anda juga bisa menjadi kuus,” kata Salzano, dikutip Selasa (2/7/2024).

“Meskipun demikian, (dengan) semua media dan teknologi, terkadang kekudusan seperti sudah ketinggalan zaman. Sebaliknya, kekudusan juga menjadi sesuatu yang penting saat ini di zaman modern ini,” lanjutnya.

Salzano mengatakan bahwa ia membelikan Acutis PlayStation ketika ia berusia delapan tahun. Namun, waktu bermain game Acutis dibatasi hanya satu jam seminggu untuk menghindari ketagihan dan mengetahui “bahaya internet.”

Salzano menambahkan bahwa sejak usia sembilan tahun, Acutis menghabiskan waktu dengan membantu para tunawisma di Milan dan memberikan uang sakunya kepada mereka yang tidur di jalanan.

Menurut Salzano, Acutis bersikeras hanya memiliki sepasang sepatu agar dia bisa menabung untuk membantu orang miskin.

Acutis dibeatifikasi dan dinyatakan “diberkati” pada 2020 setelah mukjizat pertamanya, yakni ketika ia dilaporkan menyembuhkan seorang anak laki-laki Brasil yang memiliki cacat lahir di pankreas sehingga tidak dapat makan dengan normal.

Anak asal Brasil itu dilaporkan sembuh setelah ibunya berdoa kepada Acutis untuk menjadi perantara dan membantu menyembuhkan anaknya.

Keajaiban kedua yang dikaitkan dengan Acutis adalah saat ia menyembuhkan seorang perempuan asal Kosta Rika yang menderita trauma kepala setelah jatuh dari sepedanya di Florence, Italia, tempat dia belajar. Ibunya mengatakan bahwa ia berdoa untuk kesembuhan putrinya di makam Acutis di Assisi.

Pejuang Eksim, Istri Legenda Bulutangkis Ini Ciptakan Skincare Natural

(rns/rns)

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *